BREAKING NEWS
Search

MUQADDIMAH


Diktum sains yang terkenal menyatakan bahwa sains tidak netral atau bebas nilai. Pada prinsipnya setiap bangunan sains selalu dibangun di atas tiga pilar yang berasal dari tata nilai dan worldview yang berkembang di tempat sains dibangun dan dikembangkan. Ketiga pilar tersebut adalah  ontologi, aksiologi dan epistemologi.

Pilar ontologi terkait dengan subyek (realitas) yang diterima dan dapat dikaji. Aksiologi terkait dengan untuk apa suatu ilmu pengetahuan dirumuskan. Sedangkan epistemologi terkait dengan apa dan bagaimana suatu pengetahuan dapat diperoleh, atau sumber pengetahuan.

Sains barat atau sains modern menjadikan materialisme ilmiah sebagai pilar ontologi. Subyek hanya terdiri dari materi, ruang dan waktu. Selain itu tidak ada. Jiwa dan ruh tidak ada. Di sekolah menengah materialisme ini diajarkan dengan ungkapan, “Materi tidak diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan”.

 Aksiologi sains Barat hanya berupa kepuasan dari petualangan intelektual sang ilmuwan serta untuk sains itu sendiri. Sains apa saja boleh dibangun sepanjang anggaran tersedia. Tidak perlu ada pertimbangan sosioligis, moralitas atau hal lainnya

 Untuk pilar epistemologi, sains Barat mengagungkan rasionalisme, empirisme, dan obyektifisme. Pengalaman empiris inderawi dirumuskan melalui metoda ilmiah. Fakta-fakta merupakan sumber pengetahuan, dan pengetahuan tidak boleh melebihi fakta-fakta dan hubungan yang terdapat di antaranya. Inilah inti positivisme. Karena sejak awal sains telah keluar dari diktum-diktum agama maka kitab suci tidak lagi dijadikan sebagai sumber atau basis epistemologi.

Di luar konsep sains barat di atas, Sains Islam justru memandang bahwa Allah Swt. telah memerintahkan hamba-Nya untuk merenungi kejadian-kejadian di alam semesta. Ini berarti ketika seseorang mempalajari biologi, fisika, kimia, geografi dan astronomi, sejatinya orang tersebut sedang memahami pikiran, keagungan, dan kehadiran sang Maha Pencipta, yaitu Allah Subhanauhu wa Ta’ala.

Sayangnya, di internal umat islam sendiri usaha-usaha memahami alam semesta ini masih dipandang sebagai kegiatan duniawi yang kering dari nilai-nilai spiritual. Atau hanya sekedar proyek sampingan jika dana mendukung karena tidak dianggap ibadah.

Disadari atau tidak, sekolah-sekolah pada umumnya, tidak terkecuali sekolah berlabel islam mengajarkan para siswanya meteri seperti biologi dan geografi, tapi tidak sampai kepada kesimpulan bahwa yang sedang dibahas itu adalah keagungan dan kehebatan Allah. Para siswa mempelajari siklus hujan tetapi buntu, tidak sampai kepada pertanyaan siapa yang menurunkan hujan. Atau mempelajari tatasurya, sayangnya tidak sampai kesimpulan bahwa Allah-lah yang telah mendesain semua keteraturan di jagat raya ini. Kenapa para guru-guru kita tidak mengaitkan fenomena-fenomena alam  dengan konsep ketuhanan, Tauhid Rububiyyah.

Saat ini kita merasakan akibatnya. Yang paling terasa adalah para ilmuwan hampir-hampir mudah dibeli dan para pemimpin kita rata-rata korup. Mereka berkolaborasi untuk mengekpolitasi sumberdaya alam titipan Allah ini tanpa bertanggung jawab. Belum lagi ketergantungan kita terhadap produk teknologi semakin hari semakin menggila. Sayangnya, semua produk tersebut hampir tidak ada yang keluaran negeri muslim, tak terkecuali negri muslim terbesar indonesia.

Masalah-masalah yang disinggung diatas memunculkan pertanyaan. Apa akar masalah dari semua itu? Masalahnya ada dua: Sains yang dikembangkan saat ini harus dibenahi karena membawa penyakit dan kita sebagai umat islam tidak boleh lagi abai terhadap sains.

Kita semua berimajinasi akan adanya sains kealaman: fisika, kimia, biologi, geologi, farmasi, kedokteran dan astronomi maupun terapan teknologinya, yang sejak awal dibangun diatas basis al-Quran. Kita memimpikan bangkitnya kembali peradaban islam yang berbasis sains Qurani. Tanpa sains tidak ada masa depan. Tanpa nilai-nilai Qurani, sains cenderung membabi buta dan membawa petaka. Mimpi melahirkan para saintis yang jujur dan bermoral sangat mendesak untuk kita wujudkan. Proyek yang besar ini bernama “TRENSAINS”.